PYONGYANG, RABU — Korea Utara dilaporkan sedang menghadapi kerawanan pangan serius dan bahkan sebagian kecil warga sudah kelaparan. Pasokan menjadi sangat minim terutama setelah negara itu menutup perbatasan dengan China, pintu masuk utama suplai barang, akibat pandemi Covid-19.
Peringatan kondisi ketahanan pangan Korea Utara itu disampaikan Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia, Tomas Ojea Quintana, Selasa (9/6/2020). Ia meminta rezim Korut untuk segera bertindak dan komunitas internasional juga didorong untuk segera memberikan bantuan.
“Kekurangan pangan memperparah situasi di Korut. Situasi di tahun 1990-an dan saat ini akan sama karena kekurangan makanan,” kata Quintana.
Bencana kelaparan pernah melanda Korut pada akhir 1990-an. Kondisi itu akan bisa kembali terjadi karena ketahanan pangan di Korut yang semakin parah menyebabkan kian banyak warga yang kelaparan, terutama lagi setelah negara itu menutup perbatasan dengan China.
Penutupan perbatasan, sebagai dampak kebijakan antisipasi penyebaran pandemi virus korona, juga membuat ruang gerak warga kian terbatas. Sekalipun sampai sekarang rezim yang berkuasa belum mengumumkan adanya kasus positif Covid-19 di negara yang dipimpin Kim Jong Un itu.
Pada waktu bencana kelaparan 1990-an, ratusan ribu orang diduga tewas. Sebelum pandemi Covid-19 datang, sekitar 40 persen warga Korut sudah kesulitan mendapat akses makanan bahkan banyak yang kekurangan gizi.
Juru bicara Program Pangan Dunia, Elisabeth Byrs, mengatakan, pertumbuhan satu dari lima anak usia di bawah lima tahun kerdil atau lambat. “Malnutrisi dengan skala besar seperti ini akan merusak masa depan ratusan ribu anak,” ujarnya.






